Now Loading

Bab 6

 “Pak Darto, saya malah tidak tega mau minta tolong sama Mbah Sujiwo lagi. Apa tidak ada yang bisa melebihi mbahnya lagi?”

“Malah saya khawatirnya sama yang lain bisa dibawah mbahnya itu tingkatan mereka, Pak Kades. Lagipula saya sangat yakin karena Mbah Sujiwo itu nggak main-main kalau mau bantu. Mau ketemu saja saya terhitung beruntung karena bisa.”

Mulai Pak Kades ini berpikir jika Mbah Sujiwo sudah orang yang tepat. Hanya mengkhawatirkan kondisinya saja. Terlebih saat melihat kondisinya seusai bertarung dengan makhluk gaib penghuni jalan penghubung antar desa itu. Tapi menurut kabar yang diterima oleh Pak Darto, dukun itu sudah jauh lebih baik.

“Pak Tedjo itu penghubung buat Mbah Sujiwo. Saya terima kabar darinya kalau kondisi mbahnya sudah lebih baik, Pak Kades.”

“Apa kita temui saja kesana, Pak Darto?”

“Malah katanya mbah itu mau kesini dianter sama Pak Tedjo.”

Rupanya usai obrolan itu, Mbah Sujiwo datang dengan dibonceng motor. Siapa lagi kalau bukan Tedjo yang memboncengnya. Pak Kades pun menyambutnya di rumah pribadi. Termasuk Pak Carik yang tadi baru saja mengobrol dengannya.

“Monggo mbah masuk dulu. Sama Pak Tedjo ya?”

“Iya, siapa lagi kalau bukan dia yang saya andalkan untuk berpergian keluar desa.”

Bu Kades rupanya sudah siap menyajikan aneka jajanan pasar. Dibantu anak gadisnya menyajikan minuman untuk para tamu disini. Kebiasaan di desa ini mereka membuat minumannya sendiri. Hanya disajikan air panas dalam termos serta beberapa sachet kopi maupun minuman lainnya. Kecuali teh yang sudah dibuatkan dalam teko tersendiri.

“Maaf mbah kalau boleh saya tahu, sebenarnya kenapa waktu itu sampai bertarung di jalan itu?”

Mbah Sujiwo tidak langsung menjawab. Dia nyalakan sebatang rokok yang masih dibuat secara alami dengan pembungkus klobot atau kulit jagung. Setelah hisapan pertamanya, beliau baru mau bicara.

“Ada kuburan di tengah jalan itu.”

“Kuburan? Tapi di desa ini kuburan ada letaknya sendiri. Waktu pembangunan jalan pun setahu kami juga itu aslinya tanah kebun biasa.”

“Iya, Mbah Sujiwo. Saya sama Pak Kades juga sudah ngecek sebelum dikasih aspal sama pihak dinas terkait.”

Sebuah gelengan kepala diberikan pada kedua perangkat desa itu. Sambil membuang abu rokoknya di asbak. Mbah Sujiwo menegaskan kembali jika ada kuburan ditengah jalan penghubung itu.

“Kuburan itu hawanya jelek, nak! Bisa jadi yang meninggal waktu itu tidak dimakamkan dengan baik.”

“Lalu yang katanya Mbah Sujiwo tarung itu sama siapa?”

Kini Pak Tedjo yang ganti bertanya. Sebab ia ikut merawat Mbah Sujiwo seusai pertarungan di malam itu. Penjelasan dukun satu ini sangat simpel. Hawa negatif dari makam tak bernisan itu mengundang makhluk gaib kesana. Terutama yang bersifat buruk. Sehingga mereka menguasai tempat itu dan mencelakakan pengendara yang lewat.

“Tapi maaf ini sebelumnya, mbah. Saya tidak tega kalau Mbah Sujiwo nantinya harus bertarung seperti itu lagi.”

“Kali ini saya sudah persiapkan semuanya, Nak!”

Mbah Sujiwo membawa air yang sudah didoakan secara khusus. Lalu ada patok bambu kecil yang nantinya ditanam di empat penjuru. Penanamannya nanti harus sesuai dengan instruksi darinya.  

“Kita lakukan nanti malam. Tapi sebelum itu, tanam patok bambunya dan siram air ini mengelilingi area jalan itu.”

Segera mereka semua pergi ke tempat jalan penghubung desa itu. Mbah Sujiwo yang memberi petunjuk dimana bambunya ditanam. Pak Tedjo serta Pak Darto yang membantu menanamnya. Setelah selesai, baru Pak Yanto menyiramkan air mengelilingi keempat patok itu.

“Semuanya sudah siap! Itu tadi untuk pagar gaib. Supaya mereka tidak bisa kabur kemanapun. Serta makhluk dari luar tidak bisa masuk untuk ikut menyerang saya.”

Siang hari memang waktunya para makhluk itu beristirahat. Sangat jarang sekali terjadi kecelakaan di siang hari. Justru biasanya saat sudah malam maupun menjelang Maghrib. Mereka semua menunggu hingga waktu Maghrib tiba. Rupanya informasi kedatangan Mbah Sujiwo sudah bocor. Para warga Desa Langgar Jati mulai berduyun memenuhi pinggir jalanan itu.

“Aduh, maaf Pak Kades! Kita nggak bisa lagi kendalikan warga. Mereka maksa mau nonton!”

“Sudah, biarkan saja Pak Han! Nanti diatur saja supaya tidak terlalu dekat.”

“Siap laksanakan, Pak Kades!”

Pak Han selaku hansip pertama memberi instruksi dari Pak Kades pada hansip satunya lagi. Mereka pun mulai berjaga agar tidak ada warga yang terluka. Batasnya hanya boleh dibelakang patok bambu yang ditanam. Tidak boleh terlalu maju ke depan.

***

Mbah Sujiwo memulai ritualnya. Namun kali ini ia tak nampak langsung diserang. Hanya mengeluarkan beberapa kali gerakan saja. Kemudian maju sambil mengarahkan kedua jarinya seperti pistol ke arah tanah.

“Kok mbah dukunnya diem aja ya?”

“Yoyok diem dulu ya! Kita kan pengen tahu apa aja yang dilakukan sama mbahnya itu.”

Para remaja Karang Taruna seperti Yoyok dan Sinta tak mau ketinggalan tontonan seru semacam ini. Tapi rupanya pertarungan sudah selesai begitu saja. Mbah Sujiwo langsung menuju ke rumah Pak Kades lagi.

“Yaah...tarungnya gitu doang?”

“Kamu jangan gitu, Sin! Kasihan mbahnya, udah tua malah disuruh tarung macem di film laga gitu.”

“Ya seru tahu, Yok! Makanya aku datang kesini kan siapa tahu nanti muncul ada percikan apinya atau apa gitu?”

Dua hansip sudah membubarkan kerumunan warga. Bahkan melarang untuk pergi ke rumah Pak Kades. Sebab nanti malah mengganggu pembicaraan penting antara Mbah Sujiwo dengan Pak Kades serta Pak Carik.

***

Baik Pak Yanto maupun Pak Darto mengira jika itu semua sudah selesai. Namun ternyata belum berakhir. Ini adalah awal bagi mereka untuk mencari tahu tentang kuburan yang dimaksud oleh Mbah Sujiwo.

“Saya akan tetap dampingi prosesnya. Tapi kita harus gali dan cari tahu. Siapa yang dikubur disana?”

“Wah, kita nggak mungkin mau asal bongkar aspal. Alatnya saja tak punya, Pak Kades!”

“Kita hubungi Pak Winarno serta pihak kepolisian saja dulu, Pak Darto. Saya takut kalau ternyata itu ada yang sengaja mengubur mayat disana secara diam-diam dalam proses pembuatannya.”

“Tapi kalau dipikir, kenapa ada yang menguburkan orang di tanah itu? Makam di desa ini juga ada. Seharusnya kubur disana saja!”

Pak Darto kesal karena kuburan tak bernisan itu jadi masalah baru. Sekalipun hatinya masih ragu. Sebab ia masih berpikir tentang siapa pelaku yang membuat kuburan disana. Jika itu warga rasanya tak mungkin akan lakukan hal semacam ini.

“Nak, kalian jangan mengira saja. Cepat cari tahu! Memang tadi saya sudah berhasil mengalahkan makhluk itu dan dia pergi. Tapi nantinya akan ada yang datang lagi. Sebab makam itu mengundang makhluk gaib berenergi negatif.”

Mendengar peringatan yang kali ini membuat Pak Kades serta Pak Carik makin penasaran. Mereka akhirnya berinisiatif pergi ke kantor Dinas Pekerjaan Umum lagi. Mencari tahu melalui Pak Winarno.

“Ah, jadi masih belum berhenti juga ya kasus kecelakaan disana?”

“Belum, Pak Winarno. Tapi kami dapat laporan dari seorang dukun kalau di jalan itu ada makamnya.”

Winarno orang yang logis dalam berpikir. Ia sampai menaikkan satu alisnya mendengar keterangan itu. Terpaksa dihubungi lagi perusahaan kontraktor yang menangani pembangunan jalan desa itu. Pihak perusahaan akhirnya mencari lagi data para pekerja yang terlibat didalamnya.

“Mbak, saran saya coba hubungi mandornya. Tidak perlu semua pekerja dipanggil kembali kemari.”

Entah apa jawaban pihak perusahaan, kedua perangkat Desa Langgar Jati itu tak mendengarnya. Hanya diberitahu oleh Pak Winarno jika sedang diusahakan kembali.

“Saya juga perlu kesana dan satu polisi untuk menyelidikinya. Soal pembongkaran itu nanti kita lakukan setelah semua masalahnya terbuka jelas.”

Begitulah pesan Winarno pada Pak Kades dan Pak Carik. Tentu ia tetap harus bertanggung jawab sekalipun proyek jalan ini sudah selesai lama. Namanya menjadi taruhan jika sampai kasus jalan penghubung desa ini naik ke media massa bahkan internet yang penyebarannya lebih cepat lagi.

***